Rusky Trip #1

Let’s start!

Perjalanan saya bersama istri, dimulai ketika Desember 2016 kami berdiskusi tentang tujuan jalan-jalan kami di 2017. Kemana? Gak tau? Tapi akhirnya kami mencoba untuk menetapkan budget dan berusaha menyesuaikan tujuan dengan budget yang ada dengan salah satu syarat lainnya, bahwa tujuannya adalah tempat yang under the radar (buat orang indo) untuk tujuan wisata. Beberapa perusahaan tour & travel kami sambangi website dan socmed-nya. Sampai kami mendapatkan sebuah nama 24Kaca di instagram.

Mereka menawarkan suatu perjalanan Open Trip ke negara yang menurut saya tidak biasa menjadi tujuan wisata, yaitu Russia. Pikiran saya langsung teringat ke beberapa film hollywood yang sarat dengan latar belakang cold war maupun spionase seperti The Good Shepherd, Bridge of Spies, James Bond, Salt, Red dan lain sebagainya. Selain itu saya teringat sejarah Bangsa Indonesia di era Bung Karno, dimana hubungan Indonesia dan Uni Soviet (Russia jaman dulu) dibawah kepemimpinan Nikita Kruscev sangat mesra kala itu. Tanpa pikir panjang lagi saya langsung bernegosiasi dengan istri untuk menetapkan Russia sebagai tujuan kami.

Thailand

Short story, sampailah di akhir Maret 2017, dimana kami akan memulai perjalanan ke Russia. Dengan menumpangi pesawat Thai Airways kami akan terbang selama 3,5 jam dari Jakarta ke tujuan pertama, yaitu Thailand untuk kemudian transit selama 18 jam sebelum kami terbang lagi selama hampir 9 jam ke Russia. Selama di pesawat saya sangat excited karena perjalanan ini gak bakalan sekedar jalan-jalan biasa, tapi untuk menyaksikan secuil perjalanan sejarah Indonesia di era Soekarno dan menjadi ajang pembuktian persepsi saya tentang Russia yang terkenal akan ke-angkeran-nya.

Kami sampai di Suvarnabhumi Airport sekitar pukul 4 sore kemudian dilanjutkan ke penginapan  kami bermalam yang letaknya hanya sekitar 15 menit dari airport. Bersyukur pihak hotel menjemput kami dengan free shuttle-nya jadi tidak perlu repot lagi bayar taksi. Disini kami banyak menghabiskan waktu dengan beristirahat guna perjalanan esok harinya ke Russia.

Ke-esokan harinya di Bandara Suvarnabhumi ketika sedang menunggu pesawat, saya perhatikan banyak sekali orang bule yang membawa keranjang yang isinya sayur dan buah-buahan. Pemandangan yang tidak biasa, namun pada akhirnya saya mendapat penjelasan kalau ternyata di Russia sayur dan buah mahal harganya (mungkin karena sedang musim dingin), oleh karena itu bule-bule yang ternyata berasal dari Russia tadi banyak membawa keranjang berisi sayur dan buah yang dibeli di Thailand.

Flying

Tibalah penerbangan kami ke Russia dengan menumpangi pesawat Thai Airways lagi. So far, penerbangan ini cukup berkesan karena ada menu porky nya, totally my kind a stuff! Hehehe.. Buat kamu yang tidak bisa makan menu ini tenang aja karena ada alternatif menu seperti ikan atau ayam. Rasa dari hidangan maskapai ini bisa diterima oleh lidah asia saya, mungkin karena masih sama-sama negara Asia Tenggara. Di pesawat selain menikmati entertainment di layar TV, saya paling senang untuk nongkrong di ekor pesawat, dimana dapur berada. Alasannya, selain karena untuk meluruskan kaki dan dekat dengan toilet, yang paling esensi karena saya bisa refill (free flow!) minuman apapun yang tersedia di pesawat, dari sekedar air mineral, soft drink, juice sampai wine ataupun liquor hehehe.. Ajib banget kan?!

Penerbangan selama hampir 9 jam ke Russia memberikan kesan tersendiri, karena pesawat melintasi wilayah negara yang belom pernah saya kunjungi (Uzbekistan, Kazakstan), namun dengan melihatnya dari jendela pesawat saja saya sudah sangat bersyukur dan bisa berkata kalau tangan Tuhan itu luar biasa. Jejeran pegunungan yang pucuknya diselimuti es dan hamparan lahan pertanian berwarna gradasi coklat muda kemerah-merahan tanda musim dingin yang hampir usai menjadi pemandangan yang sejuk di mata.

Moscow #1

Setelah 9 jam terbang akhirnya sampai juga kami di bandara Domodedovo, Moscow, Russia. Sekilas terlihat kalau bandara ini sedang dalam proses renovasi, karena banyak alat berat yang bekerja. Masuk ke imigrasi, terlihat bule-bule Russia sepertinya agak kurang sabaran karena seringkali menyerobot antrian dengan cara yang kurang sopan kalau menurut saya. Bisa dibayangin badan asia ini di terabas oleh badan Russia yang size-nya lebih besar 2 kali lipat. Tapi karena di negeri orang jadinya kami berusaha sabar sambil senyum-senyum kecut.

Keluar bandara, udara dingin bersuhu 5’C langsung merangsek masuk ke sela-sela badan ini. Sambil berlari kecil kami menuju van yang menjemput kami. Di dalam van suhu menjadi hangat berkat pemanas mobil yang menyala. Perjalanan ke tempat kami menginap ditempuh selama kira-kira 90 menit. Selama perjalanan saya perhatikan sekeliling, tampak masih banyak salju padahal sudah masuk bulan April. Lalu lintas terlihat cukup padat (sama seperti di Jakarta dalam hati saya), hanya saja bangunan apartment tampak mendominasi sudut-sudut kota, tidak tampak rumah petak seperti di Jakarta.

Setibanya di hotel, kami langsung check-in. Perbedaan hotel disini dan di Jakarta atau Thailand adalah hotel disini dikelola dengan staff yang terbatas (hanya petugas front office dan cleaning service) jadi bersiaplah untuk mengangkat barang bawaan sendiri yah. Kebetulan hotel ini front officenya berada di lantai 2 dan tidak ada lift! Artinya kami harus angkat barang bawaan kami ke atas, lumayan buat sedikit bakar kalori biar gak kedinginan Hehehe..

Abis check in kami bersiap untuk makan malam. Lokasi makan malam terletak di Arbat Street yang bisa ditempuh berjalan kaki selama kira-kira 5 menitan dari hotel, suasana Arbat Street sekilas seperti di Pasar Baru. Kiri kanan terdapat banyak tempat makan dan toko souvenir. Disini kami merapat di salah satu restoran lokal bernama My-my (Bacanya; miu-miu) yang menyajikan hidangan khas lokal. Saya mencoba sosis porky dan daging saus tomat (Lupa namanya) yang bentuknya seperti patty hamburger, rasanya enak untuk ukuran saya hanya saja untuk daging saus tomatnya sedikit tidak biasa di lidah (tapi habis juga sih hahaha) mungkin karena sedikit asam karena saus tomatnya.

Pada perjalanan balik ke hotel, saya melihat di kejauhan menara Kremlin yang sangat terkenal itu. Wah kereeennn! Saya jadi tidak sabar untuk segera kesana, tapi karena sudah larut malam dan suhu 1’C maka kami pun harus segera kembali ke hotel untuk istirahat dan siap-siap karena 4 hari ke depan kami akan menjelajah Ibukota Russia yaitu Moscow.

Moscow #2

Hari-hari di Moscow merupakan pengalaman yang seru bagi kami. Menjajal Metro (kereta bawah tanah) yang mulai dibangun dari awal abad ke-19 dan masih lanjut terus sampai sekarang, memiliki panjang rel setara jarak Jakarta ke Pekalongan (hampir 400 kilometer), dan ada di kedalaman yang hampir 100 meter di bawah tanah (4 menit waktu yang dibutuhkan untuk turun & naik eskalator). Belum design setiap stasiun pemberhentian yang keren banget megahnya dan artistik ditambah lagi ornamen-ornamen jaman Soviet dulu. Tarif Metro 50 Rubles per jalan atau sekitar 11.000 Rupiah (1 Ruble = 222 Rupiah), mahal? Tergantung, kalau tujuan jarak pendek jadinya mahal tapi kalau jauh yah menang banyak Hehehe.. Kereta datang hampir setiap 2 menit sekali, jadi gak perlu takut kelamaan nunggu. Cuman yang harus diperhatikan adalah tujuan kita mau kemana karena mayoritas huruf yang dipakai adalah huruf Cyrillic, menginstall aplikasi penterjemah bahasa bisa jadi salah satu solusinya.

Sempat suatu waktu kami melihat dari stasiun Metro stadion Luzhniki yang merupakan kembarannya Stadion Gelora Bung Karno di kawasan Senayan, Jakarta. Jadi dulu waktu tahun 1956, Bung Karno main-main kesini, trus beliau terkesima dengan kemegahan stadion ini dan kemudian minta dibuatin hal serupa sama Nikita Kruschev. Selang waktu berlalu jadilah Stadion Gelora Bung Karno sekarang.

IMG_0220
Luzhniki Stadium kembarannya Stadion GBK

Ke Moscow belum lengkap tanpa mengunjungi Red Square yang terkenal. Pada saat kami berjalan menuju Red Square kami melewati perpustakaan nasional Russia yang di depannya terdapat patung Lenin sedang duduk (lagi mikir sepertinya). Lalu menyusuri Taman Aleksandrovskiy yang cantik, kemudian melewati Monumen Tomb of the Unknown Soldier yang di tengahnya terdapat api abadi yang dijaga oleh tentara Russia yang pergantiannya bisa kita saksikan pada waktu-waktu tertentu (beruntung kami bisa menyaksikannya, asli Kereenn!). Monumen ini dibangun dalam rangka memperingati gugurnya para pejuang Russia yang berjuang pada masa perang dunia kedua dulu. Memasuki kawasan Red Square kami disambut dengan pemandangan State Historical Museum yang di depannya terdapat patung Marshall Zhukov yang menunggangi kuda seorang pahlawan Russia .

Masuk ke dalam kawasan Red Square saya bisa melihat di kejauhan bangunan iconic yang sangat terkenal di film-film yaitu Saint Basil Cathedral, namun sebelum kesana kita mampir dulu di Gum Mall. Mall milik pemerintah yang dibangun pada masa Soviet ini konon menjadi mall terbesar di eropa, masuk ke dalam nampak design langit-langit dari kaca menjadi pemandangan tersendiri. Setelah itu kami keluar langsung kelihatan Lenin Mausoleum yang didalamnya terdapat jasad Lenin, Stalin dan Yuri Gargarin yang dibalsem (sayang kami gak sempet masuk kedalam). Kok bisa Yuri gargarin ada disana? Karena dia manusia pertama yang berhasil ke luar angkasa dan itu merupakan kebanggan tersendiri buat rakyat Russia.

Setelah itu kami menyusuri lapangan merah yang kondisinya padat merayap susul-susulan menuju ke Saint Basil Cathedral. Tiba di Saint Basil Cathedral saya cuman bisa terkagum-kagum dengan ke elokan St. Basil ini. Konon saking indahnya bangunan St. Basil, sang arsitek dibutakan matanya oleh Ivan the Terrible supaya tidak membuat bangunan serupa di tempat lain. Belum lagi cerita waktu jamannya Napoleon Bonaparte menyerang Russia, dia (gilanya) sempat mau memboyong St. Basil ke Prancis tapi karena teknologi yang belum memadai akhirnya dia suruh anak buahnya untuk mengancurkan St. Basil ini supaya tidak ada yang bisa memilikinya, namun pada saat mau diledakan secara misterius hujan deras turun sehingga bikin basah semua bubuk mesiu sehingga rencana untuk menghancurkannya gatot alias gagal total.

Di depan bangunan St. Basil terdapat monumen Minin & Pozharsky, yang ceritanya pada awal abad ke-17 Moscow diduduki oleh tentara Polandia, pada masa sulit itu seseorang bernama Mizna Minin menyuarakan agar rakyat Russia bersatu agar bisa bebas dari jajahan Polandia, dipimpin oleh Pangeran Dmitry Pozharsky maka bergeraklah rakyat milisi Russia dan berhasil membebaskan Moscow pada tahun 1612.

IMG_0106
In front of St. Basil’s Cathedral

St. Basil ini sebenarnya terdiri dari 9 chapel yang tujuannya melindungi Sang Perawan Maria, ke-sembilan Chapel tersebut yaitu Chapel Entry into Jerusalem, Saints Kiprian and Ustinia, the Holy Trinity, St. Nicholas Velikoretsky, St. Gregory of Armenia, St. Barlaam Khutynsky, St. Alexander Svirsky, the Three Patriarchs dan St. Basil itu sendiri. Masuk ke dalam terdapat banyak peninggalan sejarah tentang gereja maupun perjalanan Bangsa Russia itu sendiri.

Moscow #3

Di Moscow kami juga mengunjungi Cathedral of Christ the Saviour yang merupakan Gereja Katholik Orthodox. Dibangun awal abad ke-19 yang butuh 40 tahun untuk membangunnya sampai selesai. Pada jamannya Joseph Stalin, tempat ini pernah dihancurkan, namun setelah Soviet bubar gereja ini di bangun kembali. Masuk ke dalam kita tidak diperbolehkan untuk foto-foto, namun saya bisa ceritakan kalau langit-langitnya menjulang tinggi, kebetulan di dalam sedang ada ibadah yang sedang berlangsung dan ini adalah pertama kali kami menyaksikan ibadah kaum Orthodox. Akustik ruangannya ajib banget karena saat ibadah ada lagu puji-pujian, namun saya mencari paduan suaranya kok tidak kelihatan, ternyata mereka berada di balkon atas yang mungkin tingginya sekitar 15 meter.

Dibelakang Cathedral of Christ the Saviour terdapat jembatan Patriarshiy yang membentang diatas sungai Moskva yang bagus banget buat lokasi foto-foto sambil menikmati pemandangan kota Moscow.

Sangat cantik memang Moscow ini, tapi sayang cuacanya dingin-dingin gimana gitu. Suhu 3-5’C jadi tantangan bagi kami, belum lagi hampir setiap hari mendung disertai hujan es ataupun air. Bbbrrrrrrrrrr… Namun itu tidak menyurutkan semangat untuk menjelajah, apalagi kali ini kita mau ke Moscow Cathedral Mosque atau Mesjid Cathedral Moscow, kok ada kata Cathedral-nya? Iya karena arti dari kata tersebut adalah megah atau epic! Mesjid yang terletak di pusat kota Moscow ini megah banget karena memang adalah ini adalah Mesjid utama di Moscow kalau di Jakarta ini seperti Mesjid Istiqlal-nya. Cuaca di luar sangat dingin, namun di dalam Mesjid ini saya rasakan kehangatan.

FullSizeRender 13
Moscow Cathedral Mosque
IMG_0202 2
Inside Moscow Cathedral Mosque

Melanjutkan perjalanan, kami kemudian menuju ke Novodevichy Cemetery (Semacam taman makam pahlawan). Agak serem sih, mengingat tempat ini adalah tempat pemakaman. Tapi eiittss, tunggu dulu.. Setibanya di lokasi ternyata tempat ini ternyata jauh dari kesan angker malahan keren banget. Jadi disini kita bisa lihat tempat peristirahatan terakhir dari para pahlawan Russia maupun tokoh lainnya yang berjasa dalam bidang militer, politikus, seniman, insiyur dan lainnya.

Disini kita bisa jumpai makamnya Boris Yeltsin (Presiden Russia setelah kejatuhan Soviet), Nikita Kruschev (Pemimpin Soviet pada era perang dingin), Tupolev (Insinyur pesawat), Tchaikovsky (Komposer Swan Lake) dan tokoh lainnya. Disini batu nisannya tidak seperti batu nisan pada umumnya karena disini dibuat layaknya monumen dan konon semakin besar monumennya berarti orang tersebut semakin besar jasanya.

Kemudian lanjut mengikuti arahan dari local guide yang kebetulan adalah anak Indonesia yang dapat beasiswa kuliah di Moscow (Buruan lulus dan bangun Ibu Pertiwi yah Sita & Azmi), kami mengarahkan kaki ke Tsaritsyno Park and Museum. Dibangun pada akhir abad ke-16 yang dulunya adalah kediaman dari Tsaritsa Irina yang kemudian dibeli oleh Catherine the Great. Ini tempat luas benerrr, pas masuk keliatan cuman taman namun ternyata di dalamnya terdapat istana. Kebayang gak sih jaman dulu kalau pas bertamu jalan dari pintu gerbang ke depan rumah bisa makan waktu 10 menit. Sayang saat itu museumnya sudah tutup padahal kalo pas buka kita bisa foto pakai gaun dan jubah layaknya bangsawan Russia jaman dulu.

FullSizeRender 14
Tsaritsyno Park and Museum.

Moscow #4

Setelah menjelajah Moscow, kita akan ke St. Petersburg namun sebelum kesana kita mampir dulu ke Cosmonaut Memorial Space Museum, dimana perjalanan ke luar angkasa bangsa Russia ada disini. Kalau konon bangsa Amerika adalah yang pertama  sampai di bulan, namun sebelum itu terjadi pencapaian bangsa Russia adalah yang pertama kali ke luar angkasa. Hal itu terjadi saat Yuri Gargarin berhasil mengitari orbit bumi pada 12 April 1961. Makanya gak heran orang Russia sangat bangga sama pencapaiannya yang satu ini, belum lagi kejadian ini terjadi pada saat seru-serunya perang dingin antara USA dan Uni Soviet yang buntutnya terjadi space race antara keduanya.

Masuk kedalam kelihatan banyak sekali anak sekolah yang study tour, penanaman nilai yang sangat baik dalam hati saya. Didalam kita bisa lihat dari proyek pertama program luar angkasa Russia, berbagai satelit, stasiun luar angkasa, roket pendorong pesawat ke luar angkasa dan berbagai sejarah yang berhubungan dengan luar angkasa dari awal sampai yang terkini. Kalau kamu kesini maka ini adalah salah satu menu wajib.

Ahhh.. Dari Moscow waktunya berangkat ke Saint Petersburg, padahal masih banyak yang belum dikunjungi. Mudah-mudahan suatu waktu bisa kesini lagi apalagi sambil liat Victory Day Parade.

Saint Petersburg tunggu ceritanya yah..

увидимся позже!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s